Mahasiswa IPB Temukan Jamur Langka Harganya Bisa Mencapai Rp 2 Juta Per Kilo

Info Kutai Timur October 27, 2017 0
INFO PENDIDIKAN - Indonesia dikaruniai wilayah hutan hujan tropika yang sangat luas dan menghijau sepanjang tahun. Salah satu keanekaragaman hayati hutan adalah mikro organisme hutan (jamur) yang memiliki peranan negatif dan positif dalam memelihara ekosistem hutan.

Peran positif mikroorganisme hutan sebagai lumbung ekonomi masyarakat antara lain sebagai bahan pangan, obat, biopulping dan penstimulir gaharu.

Divisi Perlindungan Hutan Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil memanfaatkan jamur antagonis untuk pengendalian hayati patogen hutan (Trichoderma sp dan Pleurotus sp), serta pengembangan isolat jamur tiram lokal untuk bahan pangan (Pleurotus sp).


“Mahasiswa kami bahkan berhasil menemukan jamur pangan lokal potensial, yakni jamur Morel (Morchella aff Deliciosa) yang ditemukan di Gunung Rinjani. Jamur ini satu-satunya di dunia dan harganya mahal. Di Pakistan, jamur ini dijual 50 dolar per kilogram, tapi kalau sudah masuk supermarket harganya bisa mencapai 200 dolar,” ujar Guru Besar Tetap IPB, Prof Ahmad dalam jumpa pers pra orasi ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (5/10/2017).

Peran positif lainnya adalah sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik. Jamur dapat berasosiasi dengan akar pohon atau tanaman yang dikenal dengan sebutan mikoriza. Mikoriza penting bagi tanaman karena dapat menjadi penyedia pupuk bagi pepohonan tempat mereka berasosiasi. Ada juga jamur yang bisa digunakan sebagai obat, antara lain jamur umbi (ruffle).

“Jamur umbi ini dianjurkan oleh Rosulullah SAW. Al-kam’ah (jamur umbi) itu seperti manna, airnya dapat menyehatkan mata (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Jenis jamur lainnya yang digunakan untuk obat adalah jamur ganoderma,” terangnya.

Sementara itu, dalam paparannya Prof Ahmad juga menyampaikan tantangan di masa depan dalam pemanfaatan mikroorganisme hutan.

Menurutnya, mikroorganisme juga dapat digunakan untuk menyeleksi pohon tahan penyakit yaitu dengan mengubah genetik dari mikroorganisme patogenik tersebut.

“Bila telah diperoleh ras baru patogen yakni kemampuan isolat menjadikan sakit inang yang tadinya tahan, maka patogen ras baru tersebut dapat digunakan untuk menyeleksi berbagai genotipe pohon dari jenis yang sama. Bila diperoleh pohon yang resisten terhadap penyakit, maka dapat digunakan sebagai sumber bibit untuk penanaman pada siklus tebang berikutnya,” ujarnya.

Sumber : Tribunnews

Komitmen Tanoto Foundation Ciptakan Calon Pemimpin yang Peduli Pertanian

Info Kutai Timur October 27, 2017 0
INFO PENDIDIKAN - Di era pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla, selain infrastruktur, sektor pertanian pun jadi salah satu fokus perhatian pemerintah. Hal itu, tak bisa dilepaskan, dari fakta Indonesia sebagai negara maritim dan agraris.

Ke depan, dibutuhkan calon pemimpin yang punya kepedulian dan komitmen kuat memajukan pertanian.

Demikian dikatakan Erista, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation, dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Menurut Erista, berangkat dari fakta itulah, Tanoto Foundation berkomitmen ingin ikut mencetak calon pemimpin yang punya kepedulian dan komitmen kuat memajukan berbagai sektor yang jadi lahan hajat orang banyak, khususnya pertanian.


Lewat bidang pendidikan, benih-benih unggul calon pemimpin bangsa bisa tumbuh.

Selain itu, lewat pendidikan pula, kemiskinan bisa ditekan.

Pada 20 Oktober 2017, Tanoto Foundation telah meneken perjanjian beasiswa di Jakarta, yang bermitra dengan berbagai universitas di Indonesia, baik swasta maupun negeri.

"Badan Pusat Statistik mencatatpada Maret 2017, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,77 juta, atau 10,64% dari total penduduk, " katanya.

Menurut Eriska, mengatasi kemiskinan, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi semua pihak, harus ikut memikul tanggung jawab yang sama. Termasuk lembaga swasta.

Maka berangkat dari itu, Tanoto Foundation sebagai lembaga filantropi swasta, ingin ikut berkontribusi, bersama dengan pemerintah mengurangi tingkat Kemiskinan.

"Tanoto Foundation mempunyai visi sebagai pusat unggulan dalam upaya penanggulangan kemiskinan melalui tiga strategi," kata dia.

Tiga strategi yang dimaksud, kata Eriska, adalah pendidikan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas hidup.

Selain itu, visi Tanoto Foundation ini selaras juga dengan tujuan-tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya tujuan satu, pemberantasan kemiskinan, tujuan tiga, kehidupan yang sehat, tujuan empat, pendidikan yang berkualitas.

" Dan tujuan enam, tersedianya air bersih dan sanitasi, " ujarnya.

Eriska berpendapat, pendidikan adalah kunci dalam memutus rantai kemiskinan antar generasi. Selain itu, pendidikan yang berkualitas, juga akan menghasilkan pemimpin yang baik.

Karena itu, Tanoto Foundation, ingin ikut ambil bagian dalam mengembangkan pemimpin masa depan Indonesia.

"Ini sebagai upaya holistik mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan mandat konstitusi sekaligus untuk mengimplementasikan pesan pendiri Tanoto Foundation dalam bentuk berbagai program beasiswa," tuturnya.

Maka, lanjut Eriska, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pemimpin masa depan, Tanoto Foundation telah memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi.

Hal yang jadi prioritas, kata dia, adalah mereka yang mengalami kendala ekonomi.

Program beasiswa yang diberikan untuk jenjang S1 dan S2. Program ini bermitra dengan 35 peguruan tinggi di Tanah Air, baik negeri dan swasta.

Hingga saat ini, lebih dari 3.200 mahasiswa telah mendapat dukungan beasiswa Tanoto Foundation.

"Untuk penerimaan tahun 2017, Tanoto Foundation memberikan beasiswa kepada 315 mahasiswa," ujarnya.

Selain itu, para penerima beasiswa Tanoto Foundation, atau dikenal sebagai Tanoto Scholars, kata dia, tidak hanya mendapat dukungan biaya pendidikan, tapi juga berbagai pelatihan soft skill.

Ini untuk meningkatkan kapasitas mereka, misalnya public speaking, presentasi, dan kemampuan dalam memimpin serta kerja sama tim.

Tanoto Scholars juga didorong untuk melaksanakan kegiatan sosial dalam wadah Tanoto Scholars Association (TSA) di masing-masing daerah tempat mereka belajar
"Tujuannya untuk meningkatkan sikap peduli sosial yang menjadi salah satu syarat menjadi pemimpin yang baik," katanya.

Kegiatan yang sudah berjalan, ujar Eriska, antara lain Ransel Baca oleh Tanoto Scholars di Universitas Hasanuddin, Bina Desa oleh Tanoto Scholars di Institut Pertanian Bogor, TSA Mengajar oleh Tanoto Scholars di Universitas Mulawarman, dan masih banyak lagi.

Sumber : tribunnews

KFC Berbagi Inspirasi: Potret Kaum Muda Perkotaan Peduli Pendidikan

Info Kutai Timur October 27, 2017 0
INFO PENDIDIKAN - APA yang ada di benakmu ketika mendengar kata kaum muda perkotaan? Sebagian besar kaum muda perkotaan diidentikkan dengan perilaku dan kesehariannya yang hedonis. Bersenang-senang atau gaya hidup hedonis.

Sedangkan dari perilaku, anak muda perkotaan sering dicap cuek, angkuh, kurang peduli dan sederet pelabelan negatif lainnya.

Tapi eits tunggu dulu. Lihat saja sisi lain anak muda yang ikut terjun ke pedalaman bersama KFC Berbagi Inspirasi dengan Komunitas 1000 guru.

Tentunya stereotip negatif di atas sudah tidak berlaku lagi.

Minggu lalu tepatnya di tanggal 8-10 September 2017 KFC yang bekerjasama dengan 1000 Guru  menggelar program KFC Berbagi Inspirasi di Sumba.

Acara tersebut bertujuan untuk memberikan tambahan nutrisi bagi anak-anak sekolah di pelosok Sumba serta pemberian fasilitas belajar mengajar berupa pembangunan ruang kelas di sekolah yang terpilih tersebut.


Sekolah yang beruntung didatangi Tim KFC Berbagi Inspirasi dan 1000 guru tersebut terletak di Desa Lolowano, Kecamatan Tana Righu, Sumba Barat. Sekolah Dasar Negeri Mate Wee Tame tepatnya.

Ketika pertama sampai di sana kondisi sekolah sangatlah memprihatinkan.

Bangunan sekolah yang berdiri hanya beralaskan tanah berdindingkan bilik bambu yang sebagian besar biliknya sudah menganga.

Belum lagi atap sekolah yang hanya ditutupi dengan ilalang kering, kelas yang sempit dan jarak antar kelas yang hanya dipisahkan oleh bilik bambu berlubang.

Bisa dibayangkan dong bagaimana proses belajar mengajar yang berlangsung di sana dengan kondisi bangunan seperti itu.

Namun kehadiran KFC berbagi inspirasi di SD Mata Wee Tama ternyata mengundang antusiasme kaum muda perkotaan untuk turut ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung.

Anak-anak muda dari berbagai kota besar di Indonesia bisa menunjukan kepedulian mereka terhadap pendidikan anak-anak di salah kawasan pelosok Indonesia itu.

Mereka datang jauh-jauh ke Sumba bukan tanpa maksud dan tujuan mulia.


Tujuan mereka hanya satu yakni berbagi pengetahuan, berbagi ilmu yang mereka miliki untuk bisa menginspirasi anak-anak pedalaman ini.

Hal itu selaras dengan visi yang ingin dicapai oleh kegiatan KFC Berbagi Inspirasi.

Tidak hanya anak-anak yang semangat untuk belajar. Namun kaum muda perkotaan ini pun sangat bersemangat untuk bisa mengajari anak-anak dan berinteraksi dengan mereka.

Tidak peduli dengan kondisi sekolah yang kondisinya miris, serta  tidak peduli dengan perbedaan yang ada.

Tekad mereka hanya satu yakni berbagi.

Dari kegiatan inilah kaum muda bisa menunjukan kepada masyarakat luas bahwa hidup mereka tidak hanya untuk hura-hura, tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bahkan mereka senang dengan adanya kegiatan ini.

Karena mereka bisa banyak belajar dari semangat dan tekad anak-anak pedalaman.

Malah banyak yang menyebut jika anak-anak di sana telah banyak menginspirasi mereka.

Kehidupan anak-anak di pedalaman Sumba menjadi pelajaran hidup untuk mereka bisa lebih bersyukur lagi atas kehidupan mereka di kota.

Jika Candil bernyayi 'Rocker Juga Manusia', atau Sule dengan nyanyian 'Tak Selamanya Jagung itu Direbus', nah kaum muda juga bisa kok terlepas dari stereotip-stereotip yang ditunjukkan padanya.

Asalkan dia menemukan wadah dan kesempatan yang tepat untuk bisa berbagi manfaat.

Anyway, kini saatnya kaum muda menunjukan kepeduliannya terhadap liingkungan sosialnya.
Jangan ragu lagi untuk berkontribusi terhadap pendidikan di pelosok negeri.
Sumber : tribunnews pendidikan

Potret Siswa SD di Pedalaman: Kurang Gizi, Pertama Kali Makan Telur Lalu Muntah

Info Kutai Timur October 27, 2017 0
INFO PENDIDIKAN "Saking miskinnya, banyak anak-anak yang kami bantu, saat pertama kali di beri telur ayam,mereka muntah" Ungkapan Pendiri sekaligus Ketua Komunitas 1000 Guru yakni Jemi Ngadiono itu bukan isapan jempol belaka.

Sebanyak 126 siswa SDN (Paralel) Mata Wee Tame di Desa Lolowano, Kecamatam Tana Righu, Kabulatrn Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (9/9/2017 untuk pertamakalinya menerima bantuan nutrisi yang diberikan PT Fast Food atau KFC Indoneia yang bekerjasama dengan 1000 Guru.


Litha siswi kelas 1 SD yang berada di pedalaman Kabupaten Sumba Barat itu hanya menimang-nimang telur bulat yang baru saja dibagikan.

Badannya terlihat pendek di banding anak seusianya. Kurus badannya dan mata terlihat cekung.

KFC dan 1000 Guru mendirikan Smart Project Center di SDN paralel Mata Wee Tame, Sumba Barat (Tribunnews/Yulis)
Rambut sedikit kemerahan tak terurus. Dan anak perempuan dengan seragam.cokelat pramuka itu tak banyak berinteraksi.

Tak hanya Litha, beberapa siswa lainnya juga terlihat memain-mainkan telur matang itu Seakan mereka tak rela telur itu harus masuk ke perutnya.

Bubur kacang hijau yang diterima Litha dari 1000 Guru dan KFC bersamaan dengan pemberian telur, tetlebih dulu langsung dimakan Litha dengan lahap.

Rasa bubur kacang hijau yang manis dan lembut membuatnya mudah menerima dan memakan secara cepat.

Namun saat hendak memakan telur rebus yang masih dilapisi.kulit, Litha nampak kesulitan. Beberapa kali mencoba, akhirnya kulit telur pun terkelupas. Terlihat telur ayam segar berwarna putih dan di beberapa titik, warna kuning telur.

Saking miskinnya, banyak anak-anak yang kami bantu, saat pertama kali di beri telur ayam,mereka muntah.

Ketua 1000 Guru Jemi Ngadiono dan SDN Paralel Mata We Matee di.Sumba Barat (Tribunnews/Yulis)
Begitu berhasil membukanya, Litha lantas mencoba memakan telur. Gigitan pertama dan kedua terlihat lahap.

Namun saat sebagian telur sudah berada di kerongkongan, Lita tiba-tiba memegangi lehernya. Ia berusaha mengeluarkan telur kuning yang terasa seret di kerongkongan.

Namun saat diberitahu agar terus menelannya, Lita terlihat lega. Secara perlahan, telur itu pun akhirnya habis dimakan

KFC dan 1000 Guru

Begitulah gambaran kondisi buruknya gizi para siswa  sekolah dasar di  pedalaman Sumba Barat ini.
SDN Mata Wee Tame berada di Kelurahan Lolowano yang sekitar 30 km  dari ibukota Kabupaten yakni Waikabubak.

KFC dan 1000 Guru mendirikan Smart Project Center di SDN paralel Mata Wee Tame, Sumba Barat (Tribunnews/Yulis)
Kondisi alam berbukit kapur sehingga tandus dan kering pada musim kemarau seperti September ini membuat masyarakat sulit bercocok tanam.

Kemiskinan juga tergambar dari rumah-rumah warga yang sebagian besar hanya berlapis anyaman bamu atau gedek. Lantai rumah juga sebagian besar masih tanah yang berdebu saat musim kemarau.

Kepala Sekolah SD Induk Mata Wee Tame  yakni Simon Bebuma mengatakan bahwa sebenarnya kawasan Lolonamo dan sekitarnya juga menghasilkan kacang hijau.

KFC dan 1000 Guru mendirikan Smart Project Center di SDN paralel Mata Wee Tame, Sumba Barat (Tribunnews/Yulis)
Namun warga jarang ada yang memasak menjadi bubur kacang hijau.
" Biasanya kacang hijau dijual untuk beli beras. Warga lebih butuh beras untuk makan yang mengenyangkan," ujar.

Menurut Jemi Ngadiono, KFC Indonesia dan 1000 Guru berkomiten untuk memajukan pendidikan di pedalaman.

Program yang dijalankan yakni Smart Center Project untuk sekolah dasar di pedalaman yang kondisi fisik bangunan memprihatinkan dan kondisi siswa kekurangan gizi.


Agar anak-anak mampu menyerap pelajaran yang diberikan guru, maka siswa juga perlu diberi asupan nutrisi yang cukup.

SDN (Paralel) Mata Wee Tame dipilih KFC Indonesia dan 1000 Guru menjadi Smart Center Project karena dua syarat terpenuhi.

Gedung bangunan berupa rumah gedek beratap seng, serta lantai tanah dan fasilitas mengajar sangat minim.

Saat Tribunnews.com ikut hadir di sekolahan tersebut, terlihat sebagian anak-anak bersekolah tanpa alas kaki. Sebagian kaki anak-anak luka.

Tatap mata kosong dan masih sulit diajak berkomunikasi hampir dapat dilihat dari raut wajah para siswa kelas 1 dan 2 SDN tersebut.


Byanrama, mahasiswi ITB Bandung yang ikut menjadi relawan pengajar 1000 Guru di Sumba pekan ini mengakui sulitnya mengajak anak-anak berkomunikasi.

"Sebagian bahkan belum bisa berbahasa Indonesia. Bisanya bahasa daerah," ujar Byanrama.

Hal senada dikatakan Adilhara Alcitamesa Akal, dokter yang bertugas di Kupang yang akhir pekan ini ikut mengajar bersama 1000 Guru di Sumba.

"Lihat saja, dari fisik saja terlihat anak- anak di sini kekurangan gizi. Sehingga tingkat kecerdasannya sangat jauh di bawah rata-rata," ujar dr Lala.

Jemi Ngadiono mengatakan, Smart Center yang disuport KFC Indonesia ini programnya yakni memperbaiki gizi anak-anak dan juga memberi bantuan fisik lainnya.

Seluruh siswa SDN Paralel Mata Wee Tame diberikan tas dan sendal untuk sekolah.

Kepala Sekokah Simon Bebuma mengatakan, bahwa Pemkab Sumba Barat sudah berrjanji membagun sekolahan tersebut tahun 2018.

Sekokah seadanya hasil swadya masyarakat ini akan dibangun gedung permanen.

"1000 Guru dan KFC akan bangun satu gedung. Nanti akan jadi ruang perpustakaan atau ruang belajar, " ujar Simon Bebuma.

Smart Center

General Manager Marketing KFC Indonesia Hendra Yunianto menjelakan bahwa pendidikan menjadi salah satu fokus dari program sosial KFC Indonesia.

" KFC sangat berkomitmen mendukung Smart Center Project yang dijalankan 1000 Guru," jelas Hendra.

Menurutnya, program Smart Center Prohect ini telah berjalan selama.dua tahun. Saat ini sudah 35 sekolah di pedalaman dijadikan Smart Center Project.

Smart Center ini mayoritas dilakukan wilayah Timur Indonesia dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.


Yakni, Nusa Tenggara Timur, Sumba Barat, Sumba Timur, Labuan Bajo, Flores, Lombok, Maluku Utara, Goa, Toraja (Sulawesi Selatan), Poso (Sulawesi Tengah), Samarinda, Manado, Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Kalimantan Barat, Riau, mentawai, Papua, Balikpapan, Purwokerto, dan Yogyakarta.

’’KFC memilih berkolaborasi dengan Komunitas 1000 Guru karena komunitas ini mewakili kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia. Program ini wujud tanggung jawab sosial dari KFC Indonesia, khususnya di bidang pendidikan,’’kata Hendra.

Sumber : Tribunnews pendidikan